Senin, 26 Oktober 2015

[REVIEW] OMEN #7 Target Terakhir oleh Lexie Xu

Sebelumnya aku belum pernah baca OMEN series. Buku yang ketujuh, sekaligus buku yang terakhir dari series OMEN ini adalah seriesnya yang pertama kali aku baca. Aku tertarik membacanya selain karena genrenya yang thriller--kebetulan aku suka baca novel-novel ala detektif dan misteri--novel ini kayaknya juga populer. Kalau datang ke toko buku Gramedia, sering aku lihat anak-anak SMP dan SMA yang ngerubungin kumpulan dari novel-novel OMEN series ini. Makanya aku jadi penasaran. Apalagi pas lihat covernya yang isinya gambar dari wajah karakter-karakternya yang memakai seragram berdarah-darah. Kayaknya keren aja gitu. Dan akhirnya novel ini aku putuskan untuk membawanya pulang, setelah membayar di kasir tentunya. Hehe..

Novel terbitan Gramedia Pustaka ini memiliki ketebalan 510 halaman. Cukup tebal ya? Pada saat memegangnya aku mulai membayangkan pasti akan banyak cerita-cerita seru yang disajikan penulis di dalamnya. Ah, ya sebelum membaca ceritanya, aku juga menyempatkan waktu untuk membuka halaman awal sama halaman belakang. Biasanya di halaman-halaman ini terdapat kata sambutan atau biodata dari si penulis. Pada halaman awal, aku menemukan sebuah surat dari Lexi Xu untuk anaknya. Dan pada halaman belakang aku menemukan biodata dari si penulis sendiri. Juga ada ringkasan dari novel-novel OMEN series lainnya. langsung saja aku baca semuanya. Yang bikin aku makin penasaran untuk membaca ceritanya. Saat itu aku berniat menamatkannya hari itu juga. Biasanya novel-novel yang menarik minatku akan aku baca hingga tandas hari itu juga.

Pada bagian awal novel, jujur aja aku sangat tertarik membacanya. Karakter-karakter yang ada dalam novel ini menarik dan tampaknya sangat kuat sekali. Maksudnya mereka punya keunikan-keunikan mereka sendiri. Misalnya Nikki yang psychopat, Erika yang tomboy namun jenius, Rima yang katanya mirip sadako, Putri yang jutek namun punya kharisma, Aya si makelar yang matre, Damian yang sebetulnya baik namun menutupinya dari semua orang, Val yang low profile. Ada juga Gil, OJ, dan Vik. Terus juga ada karakter dari Jonathan yang dipanggil Om BR. Setiap bab berganti-ganti dengan POV dari setiap karakter yang aku sebutkan tadi. Dan menggunakan aku dalam setiap babnya, meskipun dalam kesehariannya terkadang karakter tersebut menggunakan Lo-Gue dengan teman-temannya.

Di awal memang sangat menarik. Pembaca bisa disuguhi dengan karakter yang berbeda-beda. Namun pas berada di tengah-tengah aku mulai merasa bosan. Ada beberapa sebab kenapa aku menjadi bosan membacanya. Pertama, meskipun para karakter terkadang melakukan tindakan sesuai dengan sifat mereka, penulis terlalu banyak menceritakan pikiran-pikiran si karakter. Semuanya diceritakan. Dan aku juga merasa alurnya terasa lambat sekali, terutama pada saat bagian awal menuju tengah. Peralihan antar karakter kayak nggak ada kejadian baru. Penulis menceritakan kejadian yang sama namun dengan sudut pandang karakter yang berbeda. Awalnya aku merasa terbantu sih, karena aku belum pernah membaca OMEN series sebelumnya. Paling tidak aku tahu kejadian-kejadian yang ada di series lainnya. Tetapi lama-kelamaan aku juga jadi bosan.

Kedua, aku merasa beberapa karakter nggak terlalu realistis jika dibandingkan dengan kehidupan nyata. Misalnya karakter para polisi yang setelah kejadian rumah Daniel diserang (bisa dilihat di halaman 161), mereka menggosipkan tentang Morgan atau Chef Juna yang ganteng. Aku sebelumnya belum pernah membaca series novel OMEN yang lainnya, jadi aku tidak tahu tentang karakter Inspektur Lukas ini atau para polisi lainnya. Tapi aku ngerasa kayaknya ada yang salah kalau seorang polisi dan terutama jika itu cowok, ngomongin soal selebritis mana yang ganteng. Meskipun ini adalah cerita fiksi, hanya saja menurutku agak terasa salah. Meskipun beberapa bagian yang nggak masuk akal ini emang lucu sih. Karena dalam kejadian nyata jika ini beneran terjadi, aku beneran bakal ngakak.

Pas bagian di tengah-tengah novel aku sempat berhenti membacanya. Mau melanjutkan pun malas. Padahal saat itu konflik utamanya baru dimulai. Namun akhirnya aku berusaha untuk menyelesaikan. Masih banyak novel-novel lainnya yang menunggu untuk dibaca soalnya, hehe. Dan setelah menyelesaikan novel ini, tidak mengecewakan kok. Aku suka sama endingnya yang nggak terlalu maksa.

Pada bagian konflik utama juga lumayan menarik minatku untuk menyelesaikan membaca novel ini. Mungkin karena setiap karakter saat itu terpisah-pisah jadi kejadian yang mereka alami berbeda, jadi penulis nggak mengulang kejadian yang sama untuk diceritakan. Bikin penasaran juga, karena aku pengin tahu apa yang terjadi pada setiap karakter pada pertempuran terakhir mereka dengan Nikki.

Endingnya juga keren. Kisah cinta Putri-Damian benar-benar nyesek ya. Lalu kisah cinta Val dan Les juga yang aku suka endingnya seperti itu. Penulis masih menyisakan misteri dan cerita yang belum terselesaikan pada akhir buku, yang bikin aku suka karena pembaca seperti aku bisa berimajinasi dan menebak-nebak apa yang terjadi pada setiap karakternya.

Kelebihan lainnya dari novel ini yaitu plotnya rapi banget. Nggak salah juga sih, penulis kan menyelesaikan dalam waktu setahun. Dan yang membuahkan hasil karena aku lihat ratingnya di goodreads dapat bintang 4 lebih. Keren banget kan? Meskipun yah, aku memberi rating 3,5 untuk novel ini. Kalau dari page 1 saat ini di review goodreads saat ini, aku lihat rata-rata memberikan rating 4 atau 5. Apa cuma aku yang ngasi rating 3 ya? Heheh. Tapi itu kembali lagi kepada penilaian setiap orang kan beda-beda yah.

Tapi serius deh, novel ini SANGAT layak untuk dibaca para remaja dan orang dewasa. Biasanya novel teenlit menceritakan tentang kisah percintaan melulu, kalo yang satu ini agak berbeda. Mungkin saat ini di dunia pernovelan Indonesia (ceilah), masih jarang banget novel teenlit yang bergenre thriller. Jadi yuk baca novelnya! :) (kok  jadi promosi ya? -_-)

Selasa, 18 Agustus 2015

[Movie Review] Film Thailand "Timeline"

Kali ini aku mau ngereview Film sekaligus spoiler sih heuheu.

Ekspektasi kalo lihat judul film yang berbau Thailand, pasti aku mikirnya filmnya adalah film yang bakal bikin ngakak alias film bergenre komedi. Meskipun yah, sebelumnya aku udah pernah nonton film Thailand yang agak melow juga kayak Friendship. Film ini emang berakhir dengan sad ending seingatku. Selain film ini, film Thailand yang lain yang udah pernah aku tonton (yang aku lupa judulnya apa aja wkwk) rata-rata lucu semua. Berbeda dengan satu ini, Timeline karena agak menyesakkan gitu nontonnya.

Dirilis pada tahun 2014, film ini diawali dengan kisah tentang seorang ibu yang punya seorang suami yang tampaknya menyayanginya. Namun siapa sangka ternyata suaminya meninggal sebelum anak mereka yang pertama dilahirkan. Sang ibu membesarkan anaknya seorang diri tanpa bantuan siapa pun. Untuk mencukupi kebutuhan mereka, si ibu mengurus tanah pertanian yang menjadi impian suaminya dulu. 

Saat anaknya sudah tamat sekolah, si anak yang bernama Tan memutuskan untuk tidak kuliah di Fakultas Pertanian di daerah tempatnya tinggal seperti yang diingankan oleh ibunya. Ia diterima di jurusan Jurnalistik di Bangkok. 

Berangkat menuju Bangkok, Tan merasa bahwa inilah yang ia inginkan. Tidak mengurus pertanian, tidak menjadi seperti yang ibunya inginkan. Ia mulai terbawa arus oleh teman-teman barunya. Minum-minum dan meminta dibelikan iphone kepada ibunya. Ia bahkan tidak tahu bahwa saat itu ibunya sedang kebingungan karena tanaman arbei yang ditanam di tanah pertanian mereka banyak yang mati.

Di hari pertamanya menjadi mahasiswa baru, Tan terlambat datang karena semalam ia habis minum-minum dengan teman-temannya. Alhasil, ia dihukum bersama seorang cewek yang juga datang terlambat. Disinilah awal pertemuan Tan dengan June. (Kayanya dia lahir di bulan Juni kali yah :p) Tan dan June mulai berteman dekat. Tampaknya June juga dari awal sudah tertarik dengan Tan. Hingga ketika Tan bertemu dengan Kak Oon (bacanya on aja bukany o-on =.=). Disitu digambarkan Kak Oon itu cantik banget, padahal menurut aku sih biasa aja haha. Kak Oon itu sutradara di klub film gitu, makanya Tan mengajak June untuk bergabung ke klub itu.

Singkat cerita, Tan mulai sibuk dengan kehidupannya sebagai mahasiswa dan cinta bertepuk sebelah tangannya pada Kak Oon. Hingga dia mulai mengabaikan ibunya yang tinggal di perdesaan, dan juga June yang selalu di dekatnya. 


Penyesalan emang datangnya selalu belakangan, kalo bukan gitu bukan penyeselan namanya hehe. Dan penyeselan yang paling menyesakkan adalah mengabaikan orang-orang yang selalu menyayangimu, sementara kamu terlalu sibuk mengejar cinta yang baru yang bersifat semu, belum tentu nyata.

Begitulah yang kejadian sama Tan. Dia dapat kabar kalo ibunya sakit dan dirawat di rumah sakit. Sementara June pergi ke Jepang karena mendapat beasiswa di sana. Dan Kak Oon sendiri udah jelas menyatakan kalau dia emang nggak bisa membalas perasaannya Tan.

Ending dari film ini nyesek banget, hayo coba tebak apa :p

Tapi banyak pelajaran hidup yang bisa di dapet dari film ini. Bagaimana seharusnya kita tidak mengabaikan perasaan orang tua dan orang-orang terdekat yang benar-benar tulus, bagaimana kita harus tegar menghadapi kehidupan meskipun kita hanya sendiri. Tapi percayalah, selalu ada yang bisa membuat kita semangat asal kita mau mensyukurinya. Dan jangan pernah menyerah untuk mencapai mimpi. Hidup itu bakal jadi nggak jelas dan nggak karuan kalo kita nggak punya impian, tujuan hidup.

Dari semua yang bikin sesek dari film itu, ada satu yang aku kurang suka. Dalam film itu diceritain bagaimana ibunya Tan sama Tan mengejar mimpi dari orang yang mereka sayangi menjadi impian mereka. Dan mereka bahagia melakukannya. Aku masih nggak paham kenapa mereka bisa sok tegar dan bilang bahagia. Meskipun mereka bilang begitu, rasanya tetap saja akan sama sedihnya karena orang yang mereka sayangi udah nggak ada lagi. Sama kayak seseorang yang bilang bakal bahagia ngeliat orang yang dia sayangi bahagia bersama orang lain. Munafik bukannya ya? :p

Kamis, 11 Juni 2015

Review In A blue Moon by Ilana Tan


Judul                  : In A blue Moon
Penulis               : Ilana Tan
ISBN                 : 9786020314624
Penerbit             : Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman : 320 

Sinopsis Novel

“Apakah kau masih membenciku?”
“Aku heran kau merasa perlu bertanya.”


Lucas Ford pertama kali bertemu dengan Sophie Wilson di bulan Desember pada tahun terakhir SMA-nya. Gadis itu membencinya. Lucas kembali bertemu dengan Sophie di bulan Desember sepuluh tahun kemudian di kota New York. Gadis itu masih membencinya. Masalah utamanya bukan itu—oh, bukan!—melainkan kenyataan bahwa gadis yang membencinya itu kini ditetapkan sebagai tunangan Lucas oleh kakeknya yang suka ikut campur.

Lucas mendekati Sophie bukan karena perintah kakeknya. Ia mendekati Sophie karena ingin mengubah pendapat Sophie tentang dirinya. Juga karena ia ingin Sophie menyukainya sebesar ia menyukai gadis itu. Dan, kadang-kadang—ini sangat jarang terjadi, tentu saja—kakeknya bisa mengambil keputusan yang sangat tepat.


Review 

Manis seperti coklat, itulah yang ada di pikiran saya selama dan sesudah saya membaca novel ini. Sering kali saya tersenyum-senyum selama membaca novel terbaru Ilana Tan ini. Sebelum membeli novel ini, saya sudah membaca review dari beberapa blog karena saya sangat penasaran bagaimana isi ceritanya. Karena ini Ilana Tan, lho! Salah satu penulis favorit saya, yang setiap karyanya selalu saya nantikan. Dan begitu tau, novelnya kali ini berbeda dengan novel sebelumnya Sunshine Becomes You yang berakhir dengan sad ending (kapan-kapan saya akan menuliskan reviewnya) saya jadi bertambah penasaran ingin membacanya.

Novel ini dapat saya selesaikan dalam waktu tiga jam lebih hehe. Kalau sedang membaca buku  bagus, saya tidak bisa bertahan membaca setiap halamannya hingga selesai. 

Tentang isinya, di sinopsis di bagian belakang bukunya juga sudah diceritakan sekilas. Tentang seorang Lucas Ford yang dipaksa bertunangan dengan Sophie Wilson, cucu teman kakeknya. Sophie Wilson adalah teman Lucas Ford di SMA dulu. Well, sebenarnya di awal cerita Sophie tidak menganggap Lucas menjadi temannya, namun seseorang yang dibencinya. Alasannya karena haha baca sendiri deh ya biar ngga spoiler. Namun dari awalnya benci, Sophie mulai menyukai Lucas meskipun Sophienya denial. Endingnya bahagia, silahkan baca sendiri.

Meskipun jalan ceritanya tidak rumit, ringan, sangat ringan malah, namun novel ini memiliki karakter-karakter yang kuat yang yeah, beberapa membuat alis saya terangkat kok seperti ini ya? Dimulai dari tokoh utama, Lucas Ford. Seorang chef terkenal, tampan, romantis, perhatian, setia, gentleman dan blablabla pokoknya idaman perempuan bangetlah, haha. Meskipun di dalam dunia nyata, jika seorang pria mengucapkan kata-kata manis seperti yang dikatakan oleh Lucas Ford ini menurut saya adalah seperti gombalan. Namun di dalam novel terasa sangat manis. Mungkin lebih karena reaksinya Sophie yang membuatnya menjadi manis, lucu, dan bikin saya senyum-senyum sendiri.

Kemudian karakter utama lainnya, Sophie Wilson. Seorang gadis biasa, pemilik toko kue, awalnya galak kepada Lucas, dan denial. Iya, denial. Dia tidak mau mengakui perasaannya pada Lucas. Karakter yang ini juga sangat kuat. Ilana Tan mampu menceritakan bagaimana Sophie yang awalnya benci pada Lucas, lama kelamaan berbalik menjadi menyukainya walaupun Sophie sendiri tidak menyadarinya. 

Lalu ada karakternya kakeknya Lucas, yang sering bikin saya ketawa. Dialah yang ingin menjodohkan cucunya dengan Sophie Wilson. Dan ada karakter-karakter lainnya seperti Nic, sahabatnya Sophie, Miranda, Adrian, dan Tyler dan Spencer, kakak-kakaknya Sophie. Tentang kakak-kakaknya Sophie, digambarkan sebagai kakak-kakak yang overprotective kepada adiknya, apalagi menyangkut pacar adiknya. Namun, di dalam tindakannya sendiri, menurut saya kakak-kakaknya Sophie tidak segalak yang dideskripsikan oleh Ilana Tan.

Kelebihan dan Kekurangan Novel

Saya suka karakter-karakter dalam novel ini. Terutama Lucas Ford, hehe. Seperti di novel-novel sebelumnya, Ilana Tan juga menggambarkan seorang tokoh pria yang romantis di novelnya kali ini, yang bakal bikin semua cewek mikir cowok yang kayak gini ada yaa? Atau saya aja yang mikir gitu? Haha. Lalu, saya juga suka bagaimana Ilana Tan menyampaikan ceritanya. Kalau diibaratkan seperti kue biskuit yang baru keluar dari panggangan. Renyah dan tidak membosankan. (ah, saya selalu menggambarkan novel yang enak dibaca dengan kue). Saya udah cerita kan gimana novel ini sangat manis, jadi ibaratnya biskuit coklat yang manis. 

Namun ada juga yang menurut saya kurang dalam penceritaannya. Misalnya saja, awalnya Lucas Ford menolak mentah-mentah tentang pertunangannya. Lalu malah berubah tiba-tiba jadi pria yang memuja Sophie Wilson. Meskipun tampaknya, well, saya hanya menebak sendiri sebenarnya ada cinta monyet di antara Sophie dan Lucas saat di SMA dulu.

Lalu, konfliknya yang berada pada bagian ke 3/4 dari novelnya, bukan di tengah-tengah. Dan penyelesaian konfliknya yang menurut saya agak terburu-buru diselesaikan. 

Overall, terlepas dari segala kekurangan dari novel ini, saya tetap menyukai novel ini. Saya menberikan rating 4,5 dari lima bintang untuk novel ini.

Senin, 23 Desember 2013

jarak

Jarak mempertemukan kita
Jarak menyatukan kita
Jarak memisahkan kita
Aku membenci jarak ini
Ketika rindu yang menusuk hati
Tak mampu tersampaikan kepadamu
Karna kuingin langsung menemuimu
Ku ingin kita berbicara
Bercanda dan berjalan bersama
Hati ini lelah memimpikannya
Dan lambat laun waktu menyembuhkannya
Dan aku terbiasa merindukanmu seperti ini
Ingin rindu tapi tidak merindu
Apakah ada yang salah?

Apakah perasaanku berubah?

Minggu, 06 Oktober 2013

Summary of Novel "Alice in Wonderland"


Alice was sitting next to her sister when she saw a White Rabbit ran by her. The rabbit is very unique. He wore a waistcoat. Alice followed the White Rabbit into a hole and found herself spilling a very deep well. there is a small door which toward a beautiful garden but she did not have idea to enter the door. She drank a bottle with a label "drink me" and she became smaller. when she back to the door, she could not open it because the key was on the table. She found she could not possibly reach it. then she saw a small cake with label "eat me" and she became bigger again.

How poor Alice that she could not go to the beautiful garden because she was too big. She began to cry. she shed a gallon of tears until there was a pool around her. Later, there was the White Rabbit returned. he brought a pair of kid gloves and large fan in his hands. He left that stuffs to Alice and ran to the darkness. Alice felt pretty hot and turned on the fan. And then she became smaller again. She swam in her pool tears and she met a mouse. the mouse brought her in to the shore.

In the bank, many animals gathered in a meeting. They are duck,dodo, eagle, and another birds. They all sat down in a large circle and the mouse in the middle as the leader of the meeting. All of them were wet. They did a Caucus-race. It is a race which there is no rule when the player run or stop. After the mouse said stop the race was over. Then the mouse told a story about him. The meeting finished suddenly because Alice told about her cat and all of the animals ran away. 

Alice came to a tidy little room. She found a magic bottle and drink it. Then she became larger again.

Awal yang Baru

source: pinterest.com Dari luar jendela, kudengar rintik hujan mengetuk-ngetuk bumi. Kubuka pintu kamar dan berjalan menuju balkon. Ku...